Showing posts with label IT. Show all posts
Showing posts with label IT. Show all posts
Friday, January 13, 2012
Sunday, December 5, 2010
Pandemi BlackBerry
Dulu saya pernah ingin membahas topik ini, tapi baru sekarang terlaksana, setelah membaca artikel Yahoo!.
Saya baru saja membaca artikel di Yahoo!, tentang presiden Amerika Serikat yang ternyata tidak menggunakan iPad untuk menemaninya kemana-mana. Obama ternyata hanya dibantu oleh asisten “manual”, yaitu asisten pribadinya yang membawakan buku-buku yang juga manual. Padahal, produk-produk Apple seperti telah menjadi produk IT wajib di Amerika, bahkan menjadi salah satu produk terbaik di dunia (yang jelas lebih keren Macbook lah daripada notebook Taiwan atau China, bahkan Indonesia—yang merknya semakin lama semakin aneh-aneh, haha).
Padahal, presiden kita tercinta SBY akhir-akhir ini sering membawa-bawa iPad (yaah, bukan beliau sendiri sih yang membawa, pasti asistennya) yang terlihat ada di mimbar saat beliau berpidato. Menurut saya, bisa dibilang, presiden merupakan representasi dari masyarakat. Salah satu kebiasaan bangsa Indonesia yang telah membudaya adalah budaya ikut-ikutan.
BlackBerry, sebuah smartphone (saya tidak perlu menjelaskan ya, semua pasti juga sudah mengerti, :p) yang booming sejak kampanye Obama sekarang menyebar dimana-mana seperti pandemi di seluruh Indonesia. Mulai dari para pengusaha, artis dan pejabat yang pertama-tama menggunakannya, sekarang menyebar lebih luas pada karyawan biasa, mahasiswa, bahkan anak sekolah dasar! (yang terakhir ini, wah, saya sangat prihatin, harusnya kan dalam usia sebesar itu perhatian mereka masih terpusat pada bermain, olahraga dan berkegiatan fisik dengan teman sebayanya, bukan fokus pada BlackBerry nya).
| BlackBerry Storm |
Saya pribadi memandang BlackBerry bukan sesuatu yang sangat perlu untuk saya sendiri. Fungsi berinternet, masih tersedia internet unlimited via modem yang sangat mobile (modemnya sih mobile, tapi laptopnya ‘cukup’ mobile—karena ‘agak’ besar, hahaha). Fungsi telepon dan sms, tentu saja, bisa disediakan juga oleh telepon seluler biasa bahkan yang layarnya monokrom, hehe. Fungsi BlackBerry Messenger memang tidak bisa digantikan apapun (—kecuali Nexian Messenger, haha). Tetapi, menurut saya sms kan juga cepat, hanya dalam hitungan beberapa detik lebih lama teks dapat terkirim.
Suatu saat pernah saya mengantar kakak sepupu saya yang ingin membeli telepon seluler baru. Pilihannya jatuh pada BlackBerry (tipenya lupa), Nokia Supernova (tipe berapa ya, saya lupa juga), dan Sony Ericksson semi smartphone (tipenya juga lupa, hehe :p). Ketika membandingkan ketiganya, kurang lebih percakapan kami seperti ini:
(KSSà Kakak Sepupu Saya; Sà Saya)
KSS : bagusan yang mana ya dek?
S : hmm, supernovanya sliding mba, cepet rusak. Kalo Sony Ericksson, lebih kecil daripada BlackBerry, megangnya lebih enak. Tapi kalo BlackBerry, walaupun gede, kan qwerty. Cuma, SE (Sony Ericksson) kan nggak qwerty. Terserah milih mana, kalo aku mending SE nya..
KSS : qwerty itu apa?
S : ??????? (berpikir: katanya mau beli BlackBerry, masa qwerty aja kaga tau, ckckck)
Menurut saya, pandemi BlackBerry ini terjadi 30% karena kebutuhan, dan sisanya hanya untuk mengikuti tren. Alasannya? Para pengguna ini rata-rata tidak memanfaatkan alat ini dengan fungsional. Hanya untuk BBMan saja misalnya (wah, khasnya anak muda sekali, haha), atau berinternet saja, misalnya. Padahal, fungsi organizer juga penting lho, agar jadwal para pengusaha atau pejabat ini tidak berantakan.
Banyak pengguna BlackBerry yang masih gaptek alias tidak mengerti (atau malas belajar ya? entahlah,,) caranya menggunakan smartphone itu. Mestinya, sebelumnya beli buku panduan yang enak dibaca, sekalian saat membeli BlackBerry, biar terlihat sama pintar seperti telepon selulernya, :p. Apalagi, bapak-bapak dan ibu-ibu yang jelas-jelas neuron-neuronnya sudah mati satu per satu perlahan-lahan. Generasi ini tentu saja perlu tutor yang menjelaskan cara menggunakan smartphone canggih yang baru saja dibeli. Dan tentu saja, generasi yang lebih muda (misalnya anak, keponakan, cucu) wajib menjelaskan dengan sangat sabar (haha).
Karena itu, ketika Ayah saya menelepon, dan tiba-tiba (entah ide ini datang dari mana) berencana ingin membeli BlackBerry, saya spontan teriak: JANGAAAN!!!
Monday, August 16, 2010
Mouse Bluetooth Pembawa Petaka
Hari Sabtu siang kemarin (14 Agustus 2010) saya diminta ayah membeli mouse Bluetooth. Sebagai seorang anak yang lebih hi-tech daripada ayah *ini beneran lho, bukannya narsis, wakaka*, saya memberi beberapa masukan soal mouse Bluetooth. Sepanjang yang saya mengerti, menggunakan mouse Bluetooth berarti menghabiskan baterai lebih cepat. Tapi, ayah sudah terburu jengkel karena seringkali mouse kabel *sudah optik sih sebenarnya* yang digunakannya rusak. Mungkin karena memang sifatnya mobile, mengikuti notebook kemanapun pergi, jadi kabelnya sering tertekuk *mungkin,,*.
Saya pun berangkat ke toko komputer terdekat bersama adik saya yang sepertinya kurang bermanfaat untuk menjadi penasihat dalam memilih barang belanjaan seputar teknologi *adik saya juga gaptek, apalagi ibu saya, wah,wah speechless lah kalo ngomongin Mama*. Tiba disana, hanya ada 2 macam mouse Bluetooth: yang satu yang saya beli, dan satunya lagi berukuran kecil. Saya pertimbangkan, tidak mungkin ayah menggunakan mouse kecil yang berwarna putih itu. Telapak tangan ayah kan lebar, mana mungkin nyaman menggenggam mouse kecil itu. Jadi saya putuskan, memilih mouse ini dengan alasan ukuran yang lebih besar dan desain yang lebih nyaman di tangan. Walaupun waktu itu hanya tersedia 2 warna: pink keunguan seperti warna Honda Beat yang menjijikkan apalagi kalau dipakai ayah yang tentu saja adalah seorang pria, dan warna pink-kemerahan seperti warna Honda Vario yang juga menjijikkan tapi menurut saya lebih baik dibandingkan pink-ungu seperti Honda Beat. Setelah saya menarik napas panjang, jadilah saya bayar mouse itu, harganya Rp. 140.000,- *wtf, cukup buat beli mouse kabel sebanyak 3 atau 4 biji*. Dibawah ini adalah gambar mouse tersebut.
Tiba dirumah, beruntung bahwa ayah tidak complain masalah warna. Karena sebelumnya saya sudah bilang, pilihannya tinggal 2 *wakaka, emang kok, menurut saya yang ini yang terbaik diantara yang terburuk*. Menurut ayah, lebih baik pulang membawa sesuatu daripada tidak sama sekali. Huff, untungnya.
Masalah rupanya belum berhenti sampai disitu. Ternyata, mouse yang digunakan error. Setiap diklik kiri, muncul jendela baru Mozilla firefox *masalah apalagi iniii..*. sepanjang hari Sabtu sampai malam saya bolak-balik browsing dan reinstall tapi belum ada hasil. Hari Minggu saya bosan jadi sudah mulai mutung mencari penyelesaian.
Pagi ini, akhirnya saya menemukan akar masalahnya. Di Human Interface Device, terinstall double driver. Satu driver yang palsu yang tidak bisa di enabled maupun disabled itu ternyata harus diuninstall. Wah, kenapa saya tidak kepikiran dari kemarin ya, kemarin saya uninstall dua-duanya lalu diinstall lagi, jadi sama saja bohong.
Teknologi untuk generasi tua memang harus dimodifikasi sedemikian rupa agar tidak membingungkan. Karena nyatanya, walaupun ayah adalah seorang programmer, sekarang sepertinya dalam proses penuaan itu juga berlangsung proses pemalasan. Hehe.
Anyway, Eureka! I found it! Hehehe
*NDESO, gitu aja pamer
Subscribe to:
Posts (Atom)
