Showing posts with label film. Show all posts
Showing posts with label film. Show all posts

Wednesday, February 20, 2013

Medical Series: New Heart

Yak, setelah 23 episode melelahkan medical drama Korea “New Heart”, akhirnya saya bisa membuat resensinya. walaupun drama ini aslinya ditayangkan tahun 2007 di Korea, tapi gak ada salahnya meresensi drama ini buat penggemar medical series kayak saya, :D.


Drama ini bercerita tentang perjalanan 2 dokter baru (entah lulus Koas apa lulus internship, menurut saya di film ini, koas=internship deh), Lee Eun Sung dan Nam Hye Suk, yang apply PPDS Thoracic Surgery (a.k.a Bedah Thorax dan Kardiovaskular—BTKV) di RS Pendidikan KwangHee.
Bagian BTKV di RS ini ceritanya bukan program studi yang keren. BTKV cuma menghabiskan biaya operasional rumah sakit, menghabiskan waktu residen dan konsulennya, dan para Sp.BTKV disana ceritanya gak banyak menghasilkan uang. Beda kayak bedah plastik, dan kulit, misalnya, yang disana ceritanya merupakan prodi yang keren dan menjanjikan. (FYI, orang Korea hobi operasi plastik demi penampilan sempurna). Aneh juga ya. Padahal disini menurut saya, sejauh ini, BTKV adalah sub bagian bedah yang paling keren. :S. Makanya kenapa ada PPDS mayor dan minor. Mayor terdiri dari 4 besar (interna, anak, obgyn, bedah), sementara minor adalah sisanya. Beda sistem pendidikan juga kali ya.
Meet Lee Eun Sung. Dokter lulusan universitas yang tidak dikenal di Korea, sekolah SMP-SMAnya dulu gak jelas banget. Sekolahnya SMK, dropout, dan lulusnya dengan ujian kesetaraan (mungkin kayak paket C kali ya). Tapi ajaibnya dia bisa keterima di Third Class-Medschool (maksudnya: FK yang di perifer, gak terkenal dan gak meyakinkan). Orang yang agak lebay (menurut saya sih) dalam menghadapi segala sesuatunya yang terkait dengan pasien. Empatinya dapet, kebangetan malahan. Haha. Polos juga sih sebenernya.

Satu residen baru lagi, namanya Nam Hye Suk. Lulusan terbaik dari KwangHee, yang cerdas dan populer karena kepandaiannya. Seorang anak (yang dirahasiakan) dari Direktur RS Pendidikan KwangHee, dan ibunya adalah desainer Hanbok (baju tradisional Korea). Nam Hye Suk ikut nama keluarga ibunya, Nam. Nam Hye Suk ini orangnya cool banget lho, orangnya ga rempong, ga ribet, dan simpel. Keren ya, residen BTKV perempuan satu-satunya. Bahkan ceritanya di RS ini gak ada konsulen BTKV perempuan lho.

Ada juga Choi Gang Kook, kepala bagian Thoracic Surgery di RS itu. Skillfull, keren banget pas operasi (as well as comic). Agak jahat, kejam juga kalo ngatain orang, tapi sebenernya baik hati.

Well, menurut saya, inilah sisi positif drama ini:
-          Banyak selipan melo-drama nya. Buat yang suka nonton film drama, drama ini sesuaidengan genre melo-drama.
-          Agak sedikit diberi selipan komedi, at least bisa sedikit-sedikit ketawa lah.

Selain sisi positif, tentu ada juga negatifnya, yaitu:
-          Cuma dikit doang sisi ‘medis’nya. Secara medis ga terlalu dijelaskan, kenapa begini dan kenapa begitu.
-          Terlalu mellow. Dikit-dikit nangis. -___-“
-          Seperti medical series asia lainnya, drama ini bertujuan untuk menguras emosi penonton. Hehe.

Entah kenapa, saya paling suka hal-hal yang berkaitan dengan diagnostik. Saya suka ngeliat, cuma nggak begitu suka melakukan tindakan-tindakan soalnya.

Kesimpulan: Jadi kalo dari skala 1-10, house nilainya 9, saya kasih nilai drama ini 7 lah (saya tetap paling suka House—yang membahas diagnostik, hehe :D).      
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                               

Thursday, November 1, 2012

Medical Series: dr. Koto's Clinic


Well,gue kalap nonton banyak film, dan gue merasa perlu mereview satu medical drama ini, dr. Koto's Clinic. Kalo TMD kadar dramanya hampir seimbang dengan actionnya (action: 60%, drama: 40%), di film ini menurut gue, dramanya jauh lebih besar daripada actionnya (kurang lebih 70% drama, 30% action).
ini yang namanya dr. Goto Kensuke

Drama ini bercerita tentang dr. Goto (tapi masyarakat sekitarnya salah panggil, mereka manggil dokter ini jadi “dr. Koto”) seorang dokter bedah yang melakukan suatu kesalahan (baca: luput) telah telat menangani satu pasien yang datang dengan acute abdomen (lupa ceritanya gimana), dan memilih untuk OP pasien yang satunya lagi (lupa pasien apa, kayaknya pasien jantung). Pasien dengan acute abdomen ini akhirnya meninggal, dan ternyata kakak pasien itu adalah seorang wartawan (wah.. kacau, tamat riwayat dokter di tangan wartawan yang lebay). Dokter tersebut tersudut oleh publikasi wartawan tersebut, dan terpaksa ‘membuang’ diri ke pulau terpencil, namanya Shikina, yang puskesmasnya jelek, dan cuma ada satu perawat dan satu petugas administrasi yang biasanya merangkap jadi asisten II pas OP.

dr. Koto dan puskesmasnya


FYI: ini anestesiologist yang ada di TMD 2 lho, hehehe. Di film ini ceritanya dia jadi penduduk setempat.
  
Perawatnya ini, mbak-mbaknya yang main di drama action science-fisika gitu, dulu pernah nonton, judulnya "Galileo", hehe. bagus juga tu dramanya. :D

                Intinya, seperti layaknya medical drama Jepang, banyak hal yang ga mungkin, dan agak mustahil dilakukan. Contohnya, di puskesmas itu ga ada ruang foto buat radiologi, tapi kok tau-tau bisa ada foto thorax, foto cruris AP lateral. Hahaha. Trus, sterilisasinya gimana ya, rada bingung juga dimana mau sterilisasi alat-alat. Trus, operasi mayor yang gede-gede dan melibatkan vaskuler (masuknya ke BTKV)bisa dilakukan di Puskemas sekecil itu. Waaw. Hebat sekali.
                Episode pertama emang sih Cuma appendectomy, trus berikutnya, berikutnya, ada colonectomy (apa sigmoidectomy ya, lupa), ada juga craniotomy, trus Opnya BTKV (lupa operasi apa). Agak mirip-mirip Team Medical Dragon juga, tapi di film ini, tindakan bedahnya ga terlalu diekspos. Yang lebih diekspos adalah dramanya. Hahaha. Salah gue nonton beginian. Harusnya yang nonton ginian mbak-mbak penggemar sinetronnya RC*I atau SC*V. Pasti mereka suka juga deh nonton ginian.
                Poin positifnya dari film ini, membangun semangat buat mereka yang mau PTT ke pelosok Indonesia, semoga punya semangat pengabdian yang sama kayak dr. Koto. Udah sih gitu aja kayaknya. :D

Tuesday, November 22, 2011

Salah Kaprah: Translation and Medical Things

Carilah di kamus, apa sih artinya heart? Artinya kan Jantung. Bedanya hati sama jantung? Jelas beda dong!! (hanya orang tulalit stadium akhir yang nggak ngerti!). Anak usia sekolah dasar saja sudah mengerti.. -_-“.
                Jadi kenapa orang Indonesia men-translate-kan heart as hati? Mungkin karena menurut orang Indonesia, organ yang paling penting hati kali ya. Secara, organ terbesar, tempat buang sampah dan recycle bin, hehe. Tapi, bukankah hepar nggak punya peran vital sign? Vital sign kan hanya dipunyai oleh kardiovaskular dan paru, hehe. Pentingan jantung dong, kalau begitu.
ini gambar apa?
 jawab: ada yang bilang Hati kaaan. padahal ini lebih mirip jantung.. seperti yang dibawah ini.
 see? kedua gambar diatas memiliki kemiripan. nah, sedangkan gambar dibawah ini? gambar dibawah ini adalah HATI dalam arti sebenarnya (LIVER). sepertinya tidak mirip apa-apa. :) nah, berbeda sekali bukan jantung dengan hati?

                Paling ngakak dan sebel, waktu nonton film Heart yang dibintangi Nirina, Irwansyah, dan Acha. WTH, judulnya kenapa Heart sih?? Ganti aja judulnya jadi: LIVER. Emang sih ga menarik. Tapi kan pembohongan publik dapat dihindari. Kalau mau judulnya HEART, transplantasinya jangan hati dong, tapi jantung. Sesuaikan dong dengan namanya, hehe.
--berlanjut ya, keanehan di film ini, hubungannya dengan dunia medis betulan--
                Dulu itu kenapa ya Nirinanya bisa meninggal? Kehilangan darah ya? Saya dulu nangkepnya Nirinanya berkorban mati demi mendonorkan hatinya ke Acha. Kalau memang benar begitu, yaampun cape deh. Masa transplantasi hepar harus nunggu donornya meninggal? Kan bisa dilakukan live liver transplantation..
                Kalau Acha sakit hepar kronis (kayaknya sih sirosis,,), mestinya bukan kayak gitu penampakan darah yang keluar dari mulutnya. Darah harusnya dimuntahkan, bukan dibatukkan. Dan warnanya tidak merah cerah, tapi agak kehitaman. Darahnya kan masuk gaster dulu, baru keluar lagi. Jadi tidak mungkin warnanya merah cerah seperti itu -_-“.
                Dan lagipula, cepat sekali persiapan transplantasinya!! Masa nggak ada pencocokan dan persiapan transplantasinya?? Kalau nanti reaksi penolakannya parah gimana? Bahaya banget kan itu! Emangnya gampang nyiapin pasien buat periapan preoperatifnya? Benar-benar hebat sekali dokternya (kalau nggak mau dibilang payah, hehe). Lagipula, hebat banget ya rumah sakit dalam film itu.. kayaknya RSnya kecil, ndeso, tapi kok peralatan transplantasinya lengkap ya? (ketawa dalam hati, hahaha).
                Rasanya jadi pingin bikin film bertema kedokteran nih, yang realistis dan tidak membohongi publik. Kasihan kan, masyarakat Indonesia menjadi bodoh akibat menonton film-film yang nggak masuk akal. Mungkin tentang virus flu anjing? (-- ngarang banget, haha).
                Produser Indonesia, mungkin anda perlu medical consultant untuk film/sinetron anda? Bisa tuh kayaknya jadi lapangan pekerjaan untuk para koas dan dokter fresh graduate. :) Film/sinteron anda akan menjadi realistis, dan dapat meningkatkan rating lho (hahaha :) ).

Friday, August 19, 2011

Medical Series: Team Medical Dragon

Saya sedang addicted nonton aksi-aksi dan karakter dokter bedah (dokter bedah dalam serial Team Medical Dragon lho). 

            Team Medical Dragon atau disebut juga Iryu, merupakan salah satu medical series dari Jepang. Serial ini memang tidak mengedepankan brainstorming seperti pada House (salah satu medical series dari Amerika Serikat), karena Iryu menceritakan kehidupan dokter bedah, dengan spesialisasi jantung (kalau di Indonesia jadinya Sp.BTKV—Bedah Toraks dan Kardio Vaskuler), bukan dokter klinik seperti pada House. Istilahnya, Iryu itu talk less, do more. Kurang cocok untuk belajar bagaimana kita sebagai seorang dokter melakukan differential diagnosis (DD). Oiya, sejauh ini, saya sudah menonton Iryu sampai season 2 (of 3), sedangkan House sudah sampai season 5 (dari total sejauh ini 7 season).
            Sebagai film drama, Iryu bagus sekali. Tanpa unsur romance, Iryu tetap berhasil menghanyutkan para penontonnya. Episode saat Ijyuuin Nobori akhirnya mempunyai hubungan dekat dengan seorang pasien, nenek yang menderita kanker paru stadium akhir, sangat mengharukan. Demikian juga dengan episode saat Katou Akira akhirnya memilih pasien yang merupakan mantan kepala perawat yang sangat baik padanya, membimbing Katou Akira saat masih menjadi dokter baru. Iryu juga kadang menyajikan adegan-adegan lucu seperti halnya J-Drama atau K-Drama yang membuat penontonnya tertawa kecil (kadang juga bisa ngakak karena konyol sih, hehe).
            Dalam film ini, ditunjukkan bahwa pasien dalam film ini kebanyakan percaya 100% pada dokter. Mereka menganggap para dokter adalah Dewa/Tuhan, dan mereka sangat menghormati para dokter. Beda banget kan sama House, yang kebanyakan pasiennya bohong saat dianamnesis. Padahal, kebohongan itu mempersulit dokter melakukan DD dan pada akhirnya merawat pasien. (Sejujurnya, pasien-pasien di film House itu menyebalkan! Pantas saja House juga annoying, hehe). Okay House, I gotta say that: not everybody lies, at least patient at Meishin and Houkyou hospital! Hehe. :)
            Kepercayaan pasien pada dokter itulah yang mengharukan, bahwa pasien percaya dokternya dapat menyembuhkannya. Bahwa dokter adalah penolong baginya. Hal ini menjadi lebih dramatis lagi, karena kepercayaan dan rasa terimakasih orang Jepang itu agak berlebihan (contohnya: bersujud saat mengetahui dokter telah menyelamatkan keluarganya melalui operasi yang sukses). Soundtracknya juga mendukung suasana lebay tersebut, hehe.
            Sebagai seorang mahasiswa kedokteran, bagi saya menonton Iryu memberikan tambahan motivasi, dan juga membangun karakter seorang dokter. Bahwa keselamatan pasien, kesehatan pasien, berada diatas segalanya. Bagi dokter, yang terpenting adalah bagaimana pasien dapat sembuh. Tidak perlu memikirkan kerumitan administrasi, peraturan, dan sebagainya, karena keselamatan pasien adalah nomor satu. (but insane rule-breaker annoys others, too).
            Bagi para pecinta bedah dan kardiologi, menonton Iryu mungkin menjadi suatu tontonan wajib. Penyajian materi medisnya cukup jelas, tapi cakupan materinya sempit, hanya berkutat pada jantung (pada season 2 akhirnya melibatkan organ lain, yaitu hepar). Namun teknik bedahnya hebat sekali (menjahit dengan menggunakan tangan kosong tanpa needle holder dan pinset, waaw). Apalagi speednya, waaw.. Jujur saja, sepertinya nggak mungkin! Jadi, Iryu ini memang drama banget, kurang realistis dibandingkan House. Bayangkan, pasien Iryu tidak pernah ada yang meninggal!! Hebat kan?? (tipis bedanya antara hebat dan mustahil, hehe). Sedangkan pasien dalam House, walaupun hanya sedikit, mortalitas tetap ada. Ini realitanya kan, dokter itu bukanlah dewa, tidak dapat menyelamatkan semua orang dan segala keadaan.
            Overall, saya lebih suka House. House lebih mengedepankan diagnosis daripada actionnya. Belajar DD lebih enak melalui House. Setiap episode, dokter-dokter di film ini ‘menyerbu’ House dengan puluhan DD. Saling berdiskusi, menyingkirkan diagnosis yang tidak mungkin. Menurut saya, sedikit sekali porsi drama di film ini. Menurut saya, House dibuat lebih untuk para dokter, karena saat saya nonton dengan mbak kos yang notabene bukan mahasiswa jurusan medis, ia agak bingung dengan istilah-istilah medisnya, serta alur diagnosisnya (kalau alur diagnosisnya sih, kadang saya juga nggak ngerti – rada telmi sih, hehe..). Mereka advanced sekali dalam mendiagnosis, hebat!
            Walaupun demikian, keduanya sama bagusnya kok, cukup recommended lah untuk ditonton. :)

Friday, November 5, 2010

The Boy in the Striped Pyjamas


Sebelum saya lupa, kali ini saya akan menulis resensi film yang kemarin saya tonton, judulnya The Boy in the Striped Pyjamas. Film ini diangkat dari novel karangan John Boyne (2006) yang merupakan best seller di Amerika (menurut NY Times), dan juga di berbagai negara di seluruh dunia. Filmnya kemudian dirilis tahun 2008.

Film ini bersetting di Jerman, mungkin sekitar tahun 1930an, atau awal 1940an, saat NAZI masih berkuasa di Jerman.
Bruno, karakter utama dalam film ini, adalah putra seorang perwira tinggi NAZI. Awalnya, Bruno dan keluarganya hidup tenang di Berlin, sebelum ayahnya dipromosikan ke jabatan yang lebih tinggi, menjadi kepala kamp konsentrasi Yahudi di sebuah desa. Digambarkan ayahnya adalah perwira berkarier sukses, dan ibunya adalah ibu rumah tangga yang pandai dan berhati lembut.
Saat pindah ke rumahnya yang baru, Bruno dan kakak perempuannya, Gretel tidak bersekolah seperti biasa, melainkan bersekolah di rumah. Karena itu, Bruno merasa kesepian dan tidak punya teman. Bruno sering melihat lewat jendela kamarnya, ada suatu tempat yang dianggapnya “pertanian” dan Ia melihat sekelompok “petani” dan anak-anak yang kesemuanya menggunakan “piama” bergaris.
“Pertanian” yang dilihat Bruno itu ternyata adalah kamp konsentrasi. Bertembok duri dan beraliran listrik, kamp konsentrasi tersebut dikepalai oleh ayahnya. Diam-diam pergi ke “pertanian” tersebut, Bruno kemudian bertemu dengan Shmuel, anak yang biasa duduk di sudut halaman dalam kamp sambil menunggu waktu wajib bekerja habis. Mereka berinteraksi tidak seperti anak-anak biasa karena terbatas pagar kamp.
Cerita ini jelasnya sama sekali tidak berakhir “happy ending”. Di akhir cerita, bahkan Bruno dan Shmuel ikut masuk dalam kamar gas bersama puluhan orang-orang yang sudah tua, tanpa sempat diselamatkan oleh ayah Bruno walaupun sudah berlari dalam hujan.
Diceritakan bagaimana kehidupan dalam kamp, tentang teoritis kehidupan dalam kamp dan penerapannya yang jauh dari kata layak dan manusiawi. Dalam film ini, juga dapat diketahui bahwa tidak semua orang Jerman pada zaman itu, bahkan ibu Bruno sendiri sebagai istri perwira NAZI, mengetahui apa yang dialami orang-orang Yahudi tersebut setelah masuk dalam kamp konsentrasi. Karena itu, saat mengetahui fakta yang terjadi dalam kamp, ibu Bruno stres dan berniat memindahkan Bruno dan kakaknya ke tempat yang lebih aman bagi perkembangan psikis mereka.
Dalam cerita ini juga diketahui bahwa orang Yahudi yang bersedia menjadi tentara NAZI, akan selamat dari holocaust. Namun, tentu saja, dengan menjadi tentara NAZI, mereka harus memburu dan menganiaya saudara-saudara mereka sendiri.
Dalam film ini, dikemukakan berbagai sisi lain dari bangsa Yahudi yang dikenal cerdas namun kejam (akibat invasi Israel ke Palestina). Setiap orang tentu tidak setuju adanya holocaust bukan, karena di hati nurani setiap insan yang beradab pasti menyimpan rasa kemanusiaan terhadap sesama manusia. Holocaust memang semestinya tidak boleh ada, namun bangsa Yahudi juga tidak perlu melakukan invasi ke Palestina.
*setelah melihat Wikipedia, baru nyadar kalau pemeran ayahnya Bruno adalah pemeran Remus Lupin di Harry Potter, hahaha :D*

Tuesday, March 16, 2010

Medical Series: House, MD

satu bulan terakhir ini saya sedang tergila-gila nonton serial HOUSE, MD yang dibintangi oleh bapak angkatnya Stuart Little itu, Hugh Laurie.


saya sebenarnya tidak terlalu menyukai karakter dokter nyeleneh yang satu ini, karena sama sekali tidak mempunyai attitude yang baik seperti yang dicontohkan oleh kegiatan Skill Lab di kampus, haha. lagipula Gregory House, MD juga arogan, agak rasis, dan kadang-kadang menghalalkan cara apapun untuk mengorek informasi yang belum jelas didapatkan saat anamnesis.
tapi jalan cerita dan pola diagnosisnya lumayan rumit dan perlu dipelajari berulang, karena saya belum terlalu ngeh dengan menonton satu kali. di episode pertama, Pilot, ternyata ada differential diagnosisnya lho, :D dibuat oleh seorang mahasiswa kedokteran di timur tengah. *betapa rajin dan sangat fluently in english sekali,, waaaaw*
dengan guide tiap episode yang ada di http://www.housemd-guide.com/, semuanya bisa mencari dan membuat resume, bahkan membuat dan menjabarkan DDnya, :D semoga ada yang mau dan rajin membuat DDnya.. *amiin* hehe
saya paling suka quotesnya Lisa Cuddy, MD si kepala RS itu: "Because I'm a doctor. Because when we make mistakes people die" huaa, two thumbs up buat Bu Lisa! hehe. saya masih belum bisa membayangkan saya suatu malam berjaga di IGD sebuah rumah sakit, menangani pasien gawat darurat, dan membuat keputusan dalam hanya hitungan menit. semoga saya bisa menjadi dokter yang kompeten dan sukses, amiiin.
Semangat! :D