Showing posts with label travelling. Show all posts
Showing posts with label travelling. Show all posts

Wednesday, February 5, 2020

Tips Merencanakan Eurotrip

Juni 2011, saat itu saya masih jadi mahasiswa fakultas kedokteran di sebuah universitas negeri di Jawa Tengah. Walau kuliah di kampus paling keren murah se-pulau Jawa, tapi cita-cita saya tinggi waktu itu. SAYA HARUS BERANGKAT EUROTRIP. Entah kapan. Entah saat saya bekerja, atau saat saya pensiun. Cita-cita yang muncul bahkan ketika saya belum kepikiran mau bekerja dimana.😀


Alhamdulillah, September 2019, cita-cita saya terwujud. Allah memang Maha Baik. Entah bagaimana caranya saya akhirnya bisa berangkat kesana. hehehe.

Kali ini yang mau saya bahas adalah.. bagaimana caranya membuat suatu perencanaan EUROTRIP. Suatu kegiatan tidak akan berhasil apabila tidak direncanakan dengan tepat. Untuk itu, berikut saya berbagi sedikit tips yang mudah-mudahan bermanfaat bagi teman-teman yang berniat melaksanakan Eurotrip.

Waktu
Kapan kita akan rencanakan trip, akan berpengaruh terhadap cuaca, tujuan, sampai dengan budget.

Fall/winter trip akan makan budget yang lebih hemat, karena harga tiket pun murah. Summer adalah waktu dimana suasana eropa hangat dan bersahabat, cuaca favorit semua orang. Jadi.. tiket, akomodasi dan lain-lain akan lebih mahal dibanding winter.

Cuaca spring dan summer akan lebih bersahabat dengan kita, penduduk negeri +62 yang beriklim tropis dan biasa berjemur dengan terik matahari hampir sepanjang tahun. Tapi buat yang penasaran akan keindahan eropa di musim gugur atau bahkan musim dingin, boleh coba fall/winter trip. Asalkan bawa perlengkapan/ pakaian yang sesuai ya!

Oiya, untuk tujuan-tujuan tertentu semisal taman bunga Keukenhoff di Belanda yang menyajikan hamparan bunga tulip, nggak available sepanjang fall/winter. Jadi, kalau pingin kesana, sebaiknya rencanakan trip saat summer/spring.

Durasi
Durasi eurotrip secara keseluruhan, dan durasi di setiap negara yang dikunjungi harus diperhatikan. Idealnya, habiskan waktu minimal 2 hari di setiap negara. Selain mencegah tubuh terlalu lelah dengan mengejar jadwal yang padat, dengan tinggal sedikit lebih lama kita dapat mengeksplorasi negara itu lebih jauh.

Kalau pengalaman saya? 13 hari eurotrip untuk mengunjungi 7 (TUJUH) negara. Hahaha. Bayangkan berapa hari yang kami punya untuk mengeskplorasi 1 negara. Lelah? Pasti. Maklum, saya dan rekan-rekan partner eurotrip saya memang merencanakan eurotrip dengan waktu yang sempit namun ingin mengunjungi tempat sebanyak-banyaknya. 😂

Tujuan
Rencanakan negara/kota yang ingin dikunjungi sedetail mungkin. Cari destinasi wisata esensial yang harus dikunjungi, seperti landmark yang termasuk dalam 7 keajaiban dunia, atau masuk dalam daftar UNESCO Heritage Site. Menurut saya, Eropa merupakan destinasi wisata yang mempesona dalam hal arsitektur dan kemajuan peradabannya. Walaupun ada pula berbagai wisata alam yang indah seperti danau, pegunungan, dan pantai.

Partner
Nah, ini penting. Bagi teman-teman yang sudah menikah, mungkin ingin merencanakan untuk eurotrip bersama keluarga. Tapi, bagi para anak muda jaman now yang jomblo (hahahaa), mungkin teman-teman harus mencari partner eurotrip yang satu frekuensi, dengan cita-cita yang sama supaya nantinya bisa klop merencanakan segala sesuatunya terkait dengan eurotrip.

Bisa nggak sih pergi sendiri alias single trip? BISAA. Asal kalian punya keberanian dan waspada selalu. Namanya juga pergi ke tempat asing, negara asing. Pasti ada saja orang jahat yang berniat jahat. Entah copet (paling banyak) atau kejahatan lainnya. Nah, fungsi partner eurotrip adalah agar dapat saling menjaga satu sama lain (ciee..). hahaha.

Budget
Ini paling penting, tapi saya tulis di belakang. Nggak papa sih, supaya nggak terkesan matre aja gitu. Tau-tau nulis BUDGET paling depan. Hahaha. Serius, budget ini penting untuk menentukan mode eurotrip temen-temen. Mau eurotrip mewah ala selebritis jet set seperti Teteh Syahrini, atau mau eurotrip paket hemat ala backpackeran seperti saya. Hahaha. Tapi.. semua itu pasti ada konsekuensinya masing-masing. Wkwkwk.

Untuk pendahuluan mungkin demikian diatas dulu yang dapat saya sampaikan. Selanjutnya tulisan series mengenai eurotrip ini jelas akan bersambung di kesempatan berikutnya. 

See you!

Wednesday, May 22, 2013

Jogja Trip 12052013


Berhubung adek saya yang satu ini (--ya emang Cuma satu sih) ga ada kerjaan post UN SMA, sambil nunggu registrasi on desk masuk universitas, dia pingin nginep di Solo dengan motivasi jalan-jalan ke Jogja. Yes, Jogja. Gak mesti seluruh Jogja, tapi cuma tempat wisata yang major aja. Sebenarnya adik saya ini sudah pernah ke Jogja, tapi itu dulu, sewakktu saya SD dan dia masih TK –dia jelas udah lupa (keterbatasan memori anak TK, hehe). Haha. Jadi dia protes, dan pingin jalan-jalan ke Jogja lagi.
Jadilah Minggu pagi tanggal 12 Mei 2013, kami naik kereta Prameks (jurusan Solo-Jogja) jam 5.30 dari stasiun Solobalapan, turun di stasiun Maguwo, sekitaran jam 6.30. Jam 7 Mama telpon, trus kaget kedua anaknya sudah sampai Prambanan sepagi itu (biasanya masih tidur, apalagi hari Minggu, hehe). Yak, destinasi pertama adalah: Prambanan. Dari Maguwo bisa naik bus TransJogja rute 1A, nanti busnya berjalan kearah timur ( --balik lagi). Tapi menurut saya lebih enak daripada naik bis Solo-Jogja (yang luamaa banget). Murah lho harga tiketnya. Single trip, 3 ribu rupiah saja J. Halte TransJogja ada di pasar Prambanan. Dari pasar bisa naik becak ke dalam kompleks candi. Harga jasanya 15 ribu rupiah, cukup lumayan daripada harus jalan kaki sekitar +- 1,5 km.
Di Prambanan, karena masih pagi, pada awalnya sepi pengunjung, tetapi semakin tinggi matahari, wisatawan yang datang semakin banyak dan kompleks candi menjadi semakin ramai J. Di kompleks ini selain candi (yaiyalah), ada museum, panggung sendratari Ramayana (kayaknya sih biasanya malam hari), taman bermain, toilet (hehe, tentu saja). Dalam kompleks ini ada fasilitas sewa sepeda yang single maupun tandem (20 ribu rupiah per jam), selain itu bisa naik kereta mini juga ( lupa harganya). Oiya, tiket masuk kompleks candi Prambanan ini (tanpa masuk ke candi Sewu) adalah 30 ribu rupiah.
Ini adik saya didepan pintu masuk candi Prambanan
Di dalam candi Siwa, candi terbesar dalam kompleks candi Prambanan
Kelar keliling kompleks candi sampai gempor, kami lanjut naik bis TransJogja lagi, rute  1A lagi. Kali ini tujuan kami adalah pusat kota (Malioboro, Benteng Vrederburg, Keraton, dan Taman Sari). Karena lapar belum sarapan, demi kepastian kebersihan makanan dan kejelasan makanan, kami memilih makan di McD (--yaah, penonton kecewa. Haha) di Malioboro Mall. Setelah itu kami jalan sampai depan Pasar Beringharjo. Eh, ditawarin becak sama bapak pengemudi becak. Saya tanya ‘Keraton berapa pak?’ – ‘lima ribu mbak’. Oke, jadilah saya setuju naik becak demi prinsip #hemattenaga.
Sampai di Keraton, kami masuk keraton. Tiket masuknya 5 ribu rupiah. Kalau membawa kamera, ada chargenya 2 ribu rupiah. Kami keliling keraton Jogja, bersama puluhan orang lainnya, termasuk anak-anak SD yang cukup heboh. Ngekor rombongan yang ada guidenya. Hehehe. Ruang pamer keraton Jogja yang go public sih menurut saya nggak sebanyak museum keraton Solo. Displaynya lebih sedikit daripada museum keraton Solo.
Kelar keliling keraton, kami ketemu lagi bapak pengemudi becak (beda orang lho sama yang tadi, hehe) yang menawarkan 3 in 1 trip: Museum Kereta Keraton, pabrik dagadu, dan pabrik bakpia, harga jasanya 10 ribu rupiah. Saya tanya ‘kalo Taman Sari pak?’ – ’10 ribu mbak’. Okelah, demi prinsip #hemattenaga, saya setuju naik becak lagi ke Taman Sari.
Bapak becak tersebut membawa kami ke tempat pertama: Museum Kereta. Disana tiket masuknya 3 ribu rupiah, izin foto 2 ribu rupiah. Kami keliling-keliling museum yang lebih mirip kayak showroom mobil gitu deh (kereta jaman dulu = mobil jaman sekarang). Kemudian kami dilewatkan ke pabrik (menurut saya sih, semacam workshop atau showroom) dagadu dan bakpia pathok. Kemudian baru menuju tempat tujuan yang sebenarnya: Taman Sari.
Nah, bapaknya itu membawa kami ke Taman Sari lewat istana air (pintu belakang). Nah, tentu saja kami bingung kayak anak ayam ilang mencari dimanakah loket dan Taman Sari yang ada kolam-kolam airnya seperti yang ada di foto-foto. Kami masuk terowongan, balik lagi, kemudian masuk lagi, dan baru menyadari kalo loketnya ada di ujungnya terowongan tersebut. J
Kami masuk Taman Sari, harga tiketnya 3 ribu rupiah. Kemudian bersamaan dengan segerombolan orang (--ga tau darimana deh) kami masuk ke area kolam. Yah, mungkin sedang tidak beruntung, airnya berwarna hijau dan air mancurnya tidak sedang dinyalakan. Hahaha. Sebenarnya ada satu lagi kompleks Taman Sari, yaitu Sumur Gumuling, tapi saya sudah keburu lelah membayangkan perjalanan menuju tempat itu yang harus keluar-masuk perkampungan.
Taman Sari nih, hehe :)
Kelar dari Taman Sari, kami naik becak lagi (#hemattenaga) menuju tujuan berikutnya, yaitu benteng Vrederburg. Kali ini ongkos becaknya 15 ribu, karena jaraknya agak jauh dan menanjak. FYI, Vrederburg posisinya dekat dengan Beringharjo –lokasi awal naik becak. Hehe. Tiket masuk Vrederburg ini paling murah lho, cuma 2 ribu rupiah. Menurut saya, Vrederburg ini mirip seperti Monas gitu, isinya display barang-barang bersejarah, diorama dan sejarah perjuangan Indonesia, khususnya rakyat Jogja dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI. Di Vrederburg, kami istirahat dan sholat (di mushola yang dulu menjadi penjara).

males minta fotoin orang lewat+ga pake tripod = begini ini :D

Ini dari arah dalamnya Vrederburg
Selesai dari Vrederburg, kami berjalan menyusuri jalan Malioboro, sempat masuk Pasar Beringharjo (adik saya membeli rok batik). Kemudian kami pusing melihat kerumunan orang dalam pasar, yang luar biasa ramai. Karenanya, kami memutuskan untuk keluar pasar dan kembali ke pinggiran jalan Malioboro. Berhubung masih agak kenyang, kami memutuskan untuk membeli burger KFC di Malioboro Mall (KFC di lantai paling atas), sambil ngadem. Hehe. Kelar makan burger, kami jalan menuju stasiun Tugu, beli tiket prameks, terus naik kereta jam 14.40.
Jogja trip accomplished. :D

Tuesday, June 28, 2011

Eurotrip, Harus!

Beberapa waktu lalu saya membaca tulisan seorang backpacker. Judul blognya adalah ranselkecil. Tulisan tersebut sangat inspiring, karena setelah membaca tulisan tersebut niat saya untuk melakukan eurotrip terbakar hebat sekali, dan saya merasa bahwa eurotrip harus terwujud. Ini dia link-nya ke tulisannya itu: Melanconglah Selagi Muda.

Saya sangat tertohok sekali melihat ada kutipan artikel di Koran dalam blog yang sama, ranselkecil. Judulnya adalah Generasi Muda Indonesia Terisolasi?. Artikel tersebut menyebutkan bahwa remaja Indonesia terisolasi dari pergaulan internasional. Kenapa? Wajib dibaca ya link-nya. Tulisannya benar-benar bagus.

Experience is priceless. Ketika sudah tua, sibuk, atau tidak lagi dapat melakukan perjalanan jauh, sebuah eurotrip menjadi mustahil bukan? Pengalaman tidak dapat dibeli, karena kita sendiri yang harus melakukannya, dengan mata dan kepala sendiri. Saya bukan bermaksud untuk going-abroad-minded, tapi mencoba untuk membuka wawasan lebih luas lagi saja.

Membaca kedua tulisan tersebut, saya merasa sangat perlu untuk menabung dan menyisihkan sebagian penghasilan saya nantinya *karena sekarang masih kuliah dan finansial masih disuplai oleh orangtua, hehe*. Mungkin menabung untuk sebuah perjalanan keliling eropa yang saya impikan butuh waktu bertahun-tahun. Tapi, kata Nidji dalam Laskar Pelangi, mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia bukan? *sok filosofis*
See you, Europe.. :)