Wednesday, February 5, 2020

Tips Merencanakan Eurotrip

Juni 2011, saat itu saya masih jadi mahasiswa fakultas kedokteran di sebuah universitas negeri di Jawa Tengah. Walau kuliah di kampus paling keren murah se-pulau Jawa, tapi cita-cita saya tinggi waktu itu. SAYA HARUS BERANGKAT EUROTRIP. Entah kapan. Entah saat saya bekerja, atau saat saya pensiun. Cita-cita yang muncul bahkan ketika saya belum kepikiran mau bekerja dimana.😀


Alhamdulillah, September 2019, cita-cita saya terwujud. Allah memang Maha Baik. Entah bagaimana caranya saya akhirnya bisa berangkat kesana. hehehe.

Kali ini yang mau saya bahas adalah.. bagaimana caranya membuat suatu perencanaan EUROTRIP. Suatu kegiatan tidak akan berhasil apabila tidak direncanakan dengan tepat. Untuk itu, berikut saya berbagi sedikit tips yang mudah-mudahan bermanfaat bagi teman-teman yang berniat melaksanakan Eurotrip.

Waktu
Kapan kita akan rencanakan trip, akan berpengaruh terhadap cuaca, tujuan, sampai dengan budget.

Fall/winter trip akan makan budget yang lebih hemat, karena harga tiket pun murah. Summer adalah waktu dimana suasana eropa hangat dan bersahabat, cuaca favorit semua orang. Jadi.. tiket, akomodasi dan lain-lain akan lebih mahal dibanding winter.

Cuaca spring dan summer akan lebih bersahabat dengan kita, penduduk negeri +62 yang beriklim tropis dan biasa berjemur dengan terik matahari hampir sepanjang tahun. Tapi buat yang penasaran akan keindahan eropa di musim gugur atau bahkan musim dingin, boleh coba fall/winter trip. Asalkan bawa perlengkapan/ pakaian yang sesuai ya!

Oiya, untuk tujuan-tujuan tertentu semisal taman bunga Keukenhoff di Belanda yang menyajikan hamparan bunga tulip, nggak available sepanjang fall/winter. Jadi, kalau pingin kesana, sebaiknya rencanakan trip saat summer/spring.

Durasi
Durasi eurotrip secara keseluruhan, dan durasi di setiap negara yang dikunjungi harus diperhatikan. Idealnya, habiskan waktu minimal 2 hari di setiap negara. Selain mencegah tubuh terlalu lelah dengan mengejar jadwal yang padat, dengan tinggal sedikit lebih lama kita dapat mengeksplorasi negara itu lebih jauh.

Kalau pengalaman saya? 13 hari eurotrip untuk mengunjungi 7 (TUJUH) negara. Hahaha. Bayangkan berapa hari yang kami punya untuk mengeskplorasi 1 negara. Lelah? Pasti. Maklum, saya dan rekan-rekan partner eurotrip saya memang merencanakan eurotrip dengan waktu yang sempit namun ingin mengunjungi tempat sebanyak-banyaknya. 😂

Tujuan
Rencanakan negara/kota yang ingin dikunjungi sedetail mungkin. Cari destinasi wisata esensial yang harus dikunjungi, seperti landmark yang termasuk dalam 7 keajaiban dunia, atau masuk dalam daftar UNESCO Heritage Site. Menurut saya, Eropa merupakan destinasi wisata yang mempesona dalam hal arsitektur dan kemajuan peradabannya. Walaupun ada pula berbagai wisata alam yang indah seperti danau, pegunungan, dan pantai.

Partner
Nah, ini penting. Bagi teman-teman yang sudah menikah, mungkin ingin merencanakan untuk eurotrip bersama keluarga. Tapi, bagi para anak muda jaman now yang jomblo (hahahaa), mungkin teman-teman harus mencari partner eurotrip yang satu frekuensi, dengan cita-cita yang sama supaya nantinya bisa klop merencanakan segala sesuatunya terkait dengan eurotrip.

Bisa nggak sih pergi sendiri alias single trip? BISAA. Asal kalian punya keberanian dan waspada selalu. Namanya juga pergi ke tempat asing, negara asing. Pasti ada saja orang jahat yang berniat jahat. Entah copet (paling banyak) atau kejahatan lainnya. Nah, fungsi partner eurotrip adalah agar dapat saling menjaga satu sama lain (ciee..). hahaha.

Budget
Ini paling penting, tapi saya tulis di belakang. Nggak papa sih, supaya nggak terkesan matre aja gitu. Tau-tau nulis BUDGET paling depan. Hahaha. Serius, budget ini penting untuk menentukan mode eurotrip temen-temen. Mau eurotrip mewah ala selebritis jet set seperti Teteh Syahrini, atau mau eurotrip paket hemat ala backpackeran seperti saya. Hahaha. Tapi.. semua itu pasti ada konsekuensinya masing-masing. Wkwkwk.

Untuk pendahuluan mungkin demikian diatas dulu yang dapat saya sampaikan. Selanjutnya tulisan series mengenai eurotrip ini jelas akan bersambung di kesempatan berikutnya. 

See you!

Saturday, April 18, 2015

TOEFL(R) ITP

TOEFL(R) ITP merupakan suatu tes bahasa Inggris internasional, yang dipatenkan oleh lembaga ETS. Jadi, kalau mau coba TOEFL yang sebenarnya, kita harus tes TOEFL di lembaga bahasa yang mewakili atau mendapatkan lisensi penyelenggaraan TOEFL. Di Jakarta, ETS diwakilkan oleh beberapa lembaga bahasa, seperti misalnya AMINEF di Kuningan dan LBI Fakultas Ilmu Budaya dan Bahasa Universitas Indonesia (LBI FIB UI), yang ada di kedua kampus yaitu di Salemba dan juga di Depok.Oh iya, untuk LBPP LIA ternyata tidak mewakili ETS, jadi disana tidak ada TOEFL, hanya diganti dengan tes yang setara, namanya EPT (English Proficiency Test). Tapi, kebanyakan ujian saringan masuk kuliah, kerja, atau beasiswa mintanya TOEFL sih, dan tidak mau diganti EPT.

Singkat cerita, saya ini adalah pengangguran, yang sedang menunggu pemberangkatan program internsip dokter Indonesia (yes, without H) --yang belum jelas tanggal pemberangkatannya. Dari awal masa pengangguran saya sudah berniat ikut TOEFL dalam rangka mencoba-coba. Dari jaman SMA dulu, saya belum pernah sekalipun ikut TOEFL yang resmi dan berlisensi dari ETS. Waktu SMA dulu memang setiap tahun ikut tes semacam TOEFL yang tidak resmi di sekolah. Tidak perlu sebut lembaganya ya. :D

Sebetulnya, niatnya di awal, saya ingin menyelesaikan buku 400 Must Have Words for TOEFL keluaran McGraw-Hill dan buku TOEFL lokal (lupa penerbitnya apa). Tapi apadaya, kemalasan melanda. Jadi saya baru membaca sekitar 1/8 buku McGraw Hill dan 1/4 buku lokal tersebut. Belajar alakadarnya saja dan seadanya saja (dasarnya pemalas sih. T.T)

Saya mendaftar ujian TOEFL di LBI FIB UI. Jadi LBI UI ini ada 2 lokasi, di kampus Salemba dan kampus Depok. Jadwalnya berbeda. Untuk daftar dan lihat-lihat jadwal ujian bisa lihat di sini. Biaya testnya 29,5 USD. Untuk memastikan ketersediaan tempat ujian nya, lebih baik telpon dulu. Calon peserta tidak perlu harus datang langsung ke LBI UI untuk mendaftar dan membayar biaya tes. Semua bisa dilakukan via telepon dan internet. :D

Saya ikut tes yang tanggal 24 April 2014, di LBI FIB UI Salemba. Sebelum mulai, ada yang bawa-bawa buku TOEFL import nan tebal yang terlihat "wow". Sementara saya, cuma belajar dengan 2 buku, itupun belum selesai dibaca. Hahaha. Tapi gapapa. Namanya juga penasaran, ingin tahu seberapa kemampuan saya. Misalnya TOEFL saya masih dibawah 500, tinggal belajar lagi kan~ pikir saya waktu itu.

Tes mulai jam 09.00 dan selesai jam 11.00. Urutan tes adalah sebagai berikut: Listening Comprehension, Structure & Written Expression, dan terakhir Reading Comprehension. Listening oke, Reading oke, cuma saya agak amburadul dan kehabisan waktu ketika mengerjakan bagian Structure. Hahaha. Hal itu pun kemudian terlihat dari skor TOEFL yang saya dapatkan.

Skor untuk listening berkisar 31-68,  structure sekitar 31-68, dan reading sekitar 31-67. Skor total TOEFL minimal adalah 310, dan maksimal adalah 677. Saya? Berada di level tengah. Cukup lah buat bekal syarat PPDS UI *pede banget*. Tapi ya.. tetap masih perlu belajar lagi.
Goodluck buat yang mau test TOEFL. Semoga sukses :).


Ya ini nih hasilnya saya tes TOEFL, biar ga dikatain no pic=hoax



Wednesday, April 1, 2015

Pengalaman dan Tips ATLS

Sudah lama sekali tidak menulis di blog ini. *tiup2 debu*

Oke. Kali ini saya mau cerita tentang pengalaman ikut ATLS alias Advance Trauma Life Support. Buat para TS dokter pasti tau lah apa sih ATLS. Bahasa awamnya sih, “kursus bedah dan trauma” gitulah kurang lebihnya. Biasanya TS yang mau jaga IGD atau PPDS atau kerja di perusahaan yang sifatnya terpencil entah offshore entah onshore disyaratkan punya sertifikat course ini.

Motivasi saya ikut ATLS ini karena saya mau PPDS ortho. *mimpi deh. badan mini kayak gini*. Saya ingin ikut course ini karena saya ga suka bedah dan trauma, suka ga pede kalau lihat pasien trauma KLL. Akan tetapi, walau ga suka, tetap harus bisa kan? *ditoyor konsulen bedah*. Selain itu, saat ini saya sudah hampir selesai internsip, biar siap kerja aja sih. (tetep aja ya. hahaha). Eh apaan sih dokter internsip? Ituloh dokter yang gajinya turun tiap 3 bulan sekali. #eh

Saya ikut course ini 27 Februari-1 Maret 2015, ikut di center pendidikan sendiri, RS Dr Moewardi, Surakarta. Homebase nya almamater tercinta, FK Universitas Sebelas Maret. Biar ngumpul aja sih sama TS lain sealmamater. Tapi ga ada salahnya kok ikut course ini kapanpun dan dimanapun TS berada (lho, kayak iklan).

ATLS biasanya diadakan di center-center pendidikan. Bukan di hotel macam ACLS. Kenapa? Mungkin karena menggunakan probandus kambing (yang baunya you-know-how). Peserta ATLS praktik langsung (cricothyroidotomy, needle thoracocentesis, pericardiocentesis, pasang chest tube, venaseksi, dll) menggunakan probandus kambing hidup. Kasian sih, tapi kambingnya dalam pengaruh general anestesi kok. Jadi ga sakit.. Oh iya, mungkin karena beli kambing itu ya, jadi ATLS jauh lebih mahal daripada ACLS (IDR 5000K vs IDR 2500K).

Sebelum ATLS, TS dipersilahkan ambil buku dan lembar pretest ke sekre ATLS di center yang TS pilih sebagai tempat mengikuti ATLS. Dikerjakan pretestnya, boleh banget lho contek-contekan sama TS lainnya. Jawabannya ada yang persis kayak di buku, ada yang mikir sendiri, dan ada yang pake acara googling. (kan generasi melek internet, :D).

ATLS ini 3 hari, sama kayak ACLS. Cuma beban materinya lebih berat dibanding ACLS. Yah silahkan TS bayangin aja. Buku setebal 370-an halaman dengan bahasa inggris. Terpaksa sih. Karena manual ATLS edisi 9 ini memang belum ditranslate kedalam bahasa Indonesia. Makanya harus dipelajari dengan kekuatan ekstra. Namanya juga orang Indonesia ye kan.. :D

Di hari ketiga, saatnya mengikuti post test dan ujian praktik. Post test berjumlah 40 soal. Batas lulus post test adalah 70, tetapi TS yang nilainya diantara 35-69 diperkenankan mengikuti ujian praktik dengan perbaikan post test secara online (setelah pelatihan selesai). Setelah mengerjakan post test, sambil menunggu hasilnya, peserta dipersilahkan makan siang. Setelah itu, TS dipanggil satu persatu untuk mengikuti ujian praktik. Biasanya sih, ujian praktik lancar-lancar saja. Probandusnya? Koas atau manekin :)

Sebelum saya ikut ATLS tentu saya juga googling referensi pengalaman ATLS dari TS di dunia maya (dan dunia nyata juga sih). Setelah saya mengikuti course ini (oh iya, alhamdulillah sih langsung lulus ga perlu mengulang post test), berdasarkan pengalaman saya dan TS lain, inilah tips-tips mengikuti ATLS:

  1. Daftar di center pendidikan sendiri. Kenapa? Biar gampang koordinasi sama sekre ATLS nya masalah pembayaran dan ambil buku dll dsb. Tapi jangan berharap diskonan ya, tetep ga ada tuh. *hiks* Oh iya, dengan daftar di center sendiri, paling tidak kita sudah kenal sama beberapa pembimbing dan penguji (konsulen bedah yang tipenya you-know-who). Jadi kalau dibentak-bentak, dalam hati bisa bilang: “ah.. biasa lah beliau emang gitu.” Hahaha.
  2. Daftar jauh-jauh hari. Selain menyiapkan mental, bisa tanya-tanya dan pinjem dulu manual punya TS lain yang sudah ikut duluan (jangan jauh-jauh tapi periodenya, biar materinya ga jauh beda).
  3. Baca buku manual sampai habis. Ada belasan bab dari awal initial assessment sampai dengan transfer. Dibaca semua jangan sampai ada yang terlewat. Paling penting untuk menekankan pada bagian yang tercetak tebal dan juga yang berwarna merah. Soal post test berkisar dari isi buku manual tersebut. Insya Allah kalau baca manual sampai habis dan mengikuti pelatihan dengan baik, bisa deh mengerjakan post test nya dengan lancar.
  4. Ambil kopi disetiap break. Walau bikin dispepsia, tapi kopi sangat membantu menstabilkan GCS TS tetap menjadi 15 saat sedang memperhatikan materi dari instruktur. Maklum, dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore, gimana ga ngantuk?
  5. Belajar bareng dengan TS lain yang ikut pelatihan. Selain bisa latihan ujian praktek bareng, bisa juga membahas soal-soal dari aplikasi di appstore/playstore yang judulnya MyATLS kalo ga salah (silahkan TS search sendiri ya..). Walau tingkat kesulitannya level dewa. Alias susah banget.
  6. Jangan berharap bisa contek-menyontek. Ga bisa, soalnya kursinya dijauh-jauhin. *huks* TS Cuma bisa mengandalkan kemampuan dan tentunya keberuntungan diri sendiri. (saya banget nih yg bagian “beruntung”) hahaha.
  7. Berdoa. Apalagi yang bisa dilakukan kalau usaha sudah mentok? Hohoho.


Oh  iya, dari 35 peserta, ada 7 orang yang langsung lulus tanpa perbaikan posttest dan mendapatkan sertifikat saat itu juga. Walau direktur course sempat membully kami (yang katanya bahasa inggrisnya agak malu-maluin), pada akhirnya beliau cukup lega karena jumlah peserta yang lulus ini 2 kali lipat dari peserta ATLS yang lulus di Jakarta. *prok prok prok*

Akhir kata, demikian sekelumit pengalaman saya dalam mengikuti ATLS dan juga beberapa tips yang ngawur, semoga bermanfaat. Selamat mengikuti ATLS , semoga lancar dan sukses. Aamiin. :) 



Sunday, November 17, 2013

Cita-cita jadi dokter? Pertimbangkan lagi ya :)

Berapa persen anak kecil yang bercita-cita jadi dokter? Berapa persen orangtua yang menanamkan ‘ide’ agar anaknya mau jadi dokter? Waktu saya kecil dulu, sepertinya profesi ini menjadi cita-cita idaman anak-anak TK, bersama dengan pilot, arsitek, dan presiden. Sepertinya di Taman Kanak-Kanak belum muncul cita-cita seperti akuntan, ekonom, pengacara, atau diplomat. Hahaha. Anak-anak itu memang masih polos. :D
Bagaimana perjalanan studi dokter? Ketika mereka masih menjadi mahasiswa FK, mereka sering bergadang untuk belajar dan bangun pagi-pagi sekali untuk mengikuti pre-test jam 05.30 (bahkan gerbang belakang kampus pun belum dibuka). Ketika lulus sarjana dan menjadi koas, mereka harus sudah berada di bangsal jam 05.30 untuk follow up (memeriksa pasien) setiap pagi. Setelahnya mereka mengikuti kegiatan akademik seperti diskusi, atau mengikuti pelayanan di poliklinik atau IGD. Setelah selesai kegiatan resmi jam 14.00 mereka melaksanakan tugas jaga yang dibagi bergiliran. Sampai kapan? Sampai jam 07.00 esok harinya. Di sela-sela waktu jaga mereka sempatkan untuk follow up pasien yang menjadi tanggung jawab mereka. Frekuensi jaga setiap koas tergantung pada besar/kecilnya bagian/stase (seperti penyakit dalam, bedah, anak, kebidanan dan kandungan, dan lain sebagainya), dan juga bergantung pada jumlah koas dalam satu stase tersebut.
Setelah selesai menjalankan kepaniteraan klinik (koas), mereka mengikuti ujian kompetensi dokter Indonesia (UKDI). Setelah dinyatakan lulus, mereka masih harus mengikuti program internship alias magang di RS yang ditunjuk. Selesai itu? Ada yang kembali sekolah spesialis (PPDS), atau bekerja dimana saja, PNS, klinik, maupun tempat pelayanan kesehatan lainnya.
Bagaimana dengan dokter spesialis? Kegiatan dokter spesialis sangat padat, jangan berkecil hati dan menganggap dokter spesialis meremehkan pasien yang sudah menunggu lama. Percayalah, beliau-beliau ingin sekali tepat waktu untuk melayani keluhan anda. Ketika beliau berpraktik di klinik/rumah sakit sebelum ke klinik tempat anda periksa, saat jam praktiknya hampir habis, pasien masih saja berdatangan. Beliau tentu saja tidak dapat menolak. Pasien tersebut datang dari jauh. Karena itu beliau hanya bisa mohon maaf atas keterlambatan waktunya untuk memeriksa anda.
Dokter spesialis pun, siap dipanggil jam berapa pun ke rumah sakit jika pasien gawat. Bahkan di bagian tertentu, dokter spesialis masih bersiap jaga di rumah sakit. Dokter spesialis dengan bidang non-bedah pun siap ditelepon 24 jam oleh perawat jaga yang meminta instruksi dokter spesialis. Ketika telepon seluler berdering di tengah malam, artinya pasien membutuhkan dokter spesialis tersebut.
Karena itu, untuk anak-anak SMP-SMA yang masih punya cita-cita jadi dokter, tapi belum ada gambaran yang jelas tentang bagaimana jenjang karir alias metamorfosis menjadi dokter, penting sekaliuntuk mengetahui proses tersebut. Setelah mengetahui prosesnya, bisa pikir-pikir lagi. Dunia kedokteran yang sebenarnya berbeda jauh dengan dunia kedokteran di mata anak-anak TK yang penuh dengan bunga J. Hehehe.

Akan tetapi, untuk yang masih pantang menyerah untuk memilih jalur ini setelah mengetahui gambarannya, salut untuk mereka. Tentu saja dibalik sebuah kesulitan pasti ada kemudahan. Kemudahan seorang dokter adalah, dapat bekerja di ladang amal sepanjang hidupnya. Hal inilah yang memberikan semangat dokter-dokter tersebut saat melaksanakan tugas dan kewajibannya. Hidup Dokter Indonesia! J

Wednesday, May 22, 2013

Jogja Trip 12052013


Berhubung adek saya yang satu ini (--ya emang Cuma satu sih) ga ada kerjaan post UN SMA, sambil nunggu registrasi on desk masuk universitas, dia pingin nginep di Solo dengan motivasi jalan-jalan ke Jogja. Yes, Jogja. Gak mesti seluruh Jogja, tapi cuma tempat wisata yang major aja. Sebenarnya adik saya ini sudah pernah ke Jogja, tapi itu dulu, sewakktu saya SD dan dia masih TK –dia jelas udah lupa (keterbatasan memori anak TK, hehe). Haha. Jadi dia protes, dan pingin jalan-jalan ke Jogja lagi.
Jadilah Minggu pagi tanggal 12 Mei 2013, kami naik kereta Prameks (jurusan Solo-Jogja) jam 5.30 dari stasiun Solobalapan, turun di stasiun Maguwo, sekitaran jam 6.30. Jam 7 Mama telpon, trus kaget kedua anaknya sudah sampai Prambanan sepagi itu (biasanya masih tidur, apalagi hari Minggu, hehe). Yak, destinasi pertama adalah: Prambanan. Dari Maguwo bisa naik bus TransJogja rute 1A, nanti busnya berjalan kearah timur ( --balik lagi). Tapi menurut saya lebih enak daripada naik bis Solo-Jogja (yang luamaa banget). Murah lho harga tiketnya. Single trip, 3 ribu rupiah saja J. Halte TransJogja ada di pasar Prambanan. Dari pasar bisa naik becak ke dalam kompleks candi. Harga jasanya 15 ribu rupiah, cukup lumayan daripada harus jalan kaki sekitar +- 1,5 km.
Di Prambanan, karena masih pagi, pada awalnya sepi pengunjung, tetapi semakin tinggi matahari, wisatawan yang datang semakin banyak dan kompleks candi menjadi semakin ramai J. Di kompleks ini selain candi (yaiyalah), ada museum, panggung sendratari Ramayana (kayaknya sih biasanya malam hari), taman bermain, toilet (hehe, tentu saja). Dalam kompleks ini ada fasilitas sewa sepeda yang single maupun tandem (20 ribu rupiah per jam), selain itu bisa naik kereta mini juga ( lupa harganya). Oiya, tiket masuk kompleks candi Prambanan ini (tanpa masuk ke candi Sewu) adalah 30 ribu rupiah.
Ini adik saya didepan pintu masuk candi Prambanan
Di dalam candi Siwa, candi terbesar dalam kompleks candi Prambanan
Kelar keliling kompleks candi sampai gempor, kami lanjut naik bis TransJogja lagi, rute  1A lagi. Kali ini tujuan kami adalah pusat kota (Malioboro, Benteng Vrederburg, Keraton, dan Taman Sari). Karena lapar belum sarapan, demi kepastian kebersihan makanan dan kejelasan makanan, kami memilih makan di McD (--yaah, penonton kecewa. Haha) di Malioboro Mall. Setelah itu kami jalan sampai depan Pasar Beringharjo. Eh, ditawarin becak sama bapak pengemudi becak. Saya tanya ‘Keraton berapa pak?’ – ‘lima ribu mbak’. Oke, jadilah saya setuju naik becak demi prinsip #hemattenaga.
Sampai di Keraton, kami masuk keraton. Tiket masuknya 5 ribu rupiah. Kalau membawa kamera, ada chargenya 2 ribu rupiah. Kami keliling keraton Jogja, bersama puluhan orang lainnya, termasuk anak-anak SD yang cukup heboh. Ngekor rombongan yang ada guidenya. Hehehe. Ruang pamer keraton Jogja yang go public sih menurut saya nggak sebanyak museum keraton Solo. Displaynya lebih sedikit daripada museum keraton Solo.
Kelar keliling keraton, kami ketemu lagi bapak pengemudi becak (beda orang lho sama yang tadi, hehe) yang menawarkan 3 in 1 trip: Museum Kereta Keraton, pabrik dagadu, dan pabrik bakpia, harga jasanya 10 ribu rupiah. Saya tanya ‘kalo Taman Sari pak?’ – ’10 ribu mbak’. Okelah, demi prinsip #hemattenaga, saya setuju naik becak lagi ke Taman Sari.
Bapak becak tersebut membawa kami ke tempat pertama: Museum Kereta. Disana tiket masuknya 3 ribu rupiah, izin foto 2 ribu rupiah. Kami keliling-keliling museum yang lebih mirip kayak showroom mobil gitu deh (kereta jaman dulu = mobil jaman sekarang). Kemudian kami dilewatkan ke pabrik (menurut saya sih, semacam workshop atau showroom) dagadu dan bakpia pathok. Kemudian baru menuju tempat tujuan yang sebenarnya: Taman Sari.
Nah, bapaknya itu membawa kami ke Taman Sari lewat istana air (pintu belakang). Nah, tentu saja kami bingung kayak anak ayam ilang mencari dimanakah loket dan Taman Sari yang ada kolam-kolam airnya seperti yang ada di foto-foto. Kami masuk terowongan, balik lagi, kemudian masuk lagi, dan baru menyadari kalo loketnya ada di ujungnya terowongan tersebut. J
Kami masuk Taman Sari, harga tiketnya 3 ribu rupiah. Kemudian bersamaan dengan segerombolan orang (--ga tau darimana deh) kami masuk ke area kolam. Yah, mungkin sedang tidak beruntung, airnya berwarna hijau dan air mancurnya tidak sedang dinyalakan. Hahaha. Sebenarnya ada satu lagi kompleks Taman Sari, yaitu Sumur Gumuling, tapi saya sudah keburu lelah membayangkan perjalanan menuju tempat itu yang harus keluar-masuk perkampungan.
Taman Sari nih, hehe :)
Kelar dari Taman Sari, kami naik becak lagi (#hemattenaga) menuju tujuan berikutnya, yaitu benteng Vrederburg. Kali ini ongkos becaknya 15 ribu, karena jaraknya agak jauh dan menanjak. FYI, Vrederburg posisinya dekat dengan Beringharjo –lokasi awal naik becak. Hehe. Tiket masuk Vrederburg ini paling murah lho, cuma 2 ribu rupiah. Menurut saya, Vrederburg ini mirip seperti Monas gitu, isinya display barang-barang bersejarah, diorama dan sejarah perjuangan Indonesia, khususnya rakyat Jogja dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI. Di Vrederburg, kami istirahat dan sholat (di mushola yang dulu menjadi penjara).

males minta fotoin orang lewat+ga pake tripod = begini ini :D

Ini dari arah dalamnya Vrederburg
Selesai dari Vrederburg, kami berjalan menyusuri jalan Malioboro, sempat masuk Pasar Beringharjo (adik saya membeli rok batik). Kemudian kami pusing melihat kerumunan orang dalam pasar, yang luar biasa ramai. Karenanya, kami memutuskan untuk keluar pasar dan kembali ke pinggiran jalan Malioboro. Berhubung masih agak kenyang, kami memutuskan untuk membeli burger KFC di Malioboro Mall (KFC di lantai paling atas), sambil ngadem. Hehe. Kelar makan burger, kami jalan menuju stasiun Tugu, beli tiket prameks, terus naik kereta jam 14.40.
Jogja trip accomplished. :D

Friday, March 15, 2013

Stase #14: Jiwa


Inilah sekeping cerita yang datang dari suatu remote area di pinggir kota Surakarta, rumah sakit jiwa (RSJ) Daerah Surakarta, disingkat RSJD. Alkisah selama 4 minggu ini gue ikut stase psikiatri alias ilmu kedokteran jiwa. Jadi, di stase ini gue banyak menemukan pelajaran dari pasien di RSJD. Walaupun Cuma seminggu gue disana, tapi banyak banget yang bisa digali dari pasien-pasien disana.
Di RSJ ini, pasien masuk bangsal dengan jumlah tempat tidur yang banyak, tanpa ditunggu oleh keluarganya (yang ditunggu oleh keluarganya hanya bangsal NAPZA, bangsal kelas I dan VIP) . Ga kayak di rumah sakit umum Moewardi (tempat gue biasanya menjalani kehidupan perkoasan gue), di RSJD ini gak banyak keluarga pasien yang menjenguk pasien. Kalo Moewardi selalu penuh dengan keluarga atau kerabat yang mau menjenguk, RSJ ini selalu sepi oleh pengunjung pasien. Kalaupun ada, itu gak bakal banyak. Paling-paling dalam beberapa jam, kalau beruntung kadang ada keluarga pasien yang menjenguk. Dari situ gue ambil kesimpulan kalo pasien-pasien RSJ ini jarang dijenguk oleh keluarganya.
Sambil belajar psikiatri dari pasien-pasien disana, gue juga belajar bersyukur, bergaul, dan jadi gak takut sama orang dengan gangguan jiwa. Mereka sebenernya juga sama kayak kita, butuh keluarga, kangen rumah, butuh temen, walaupun ada juga yang seringnya sendirian aja. Tapi kebanyakan dari mereka seneng lho kalo dikunjungi koas, walaupun cuma sekedar ngajak ngobrol buat anamnesis pasien.
Misalnya, pasien skizofrenia. Ga banyak lho, keluarga yang bisa menerima keadaan pasien yang seperti itu. Banyak yang malah mengabaikan, menelantarkan, atau bisa juga memasung pasien. Padahal, pasien membutuhkan support dari orang-orang terdekat mereka. Keluargalah yang bisa memotivasi pasien untuk rajin minum obat, mengingatkan pasien untuk rajin beribadah, mengalihkan perhatian pasien dari halusinasi, ilusi, dan wahamnya, kepada kegiatan-kegiatan yang bermanfaat.
Mereka sebenarnya juga bosan berada di bangsal RSJ, terkurung selama 24 jam sehari, walau kadang, untuk beberapa menit, ikut terapi musik, rehabilitasi dengan terapi kerja, dan lain sebagainya diluar bangsal. Ngapain aja mereka di bangsal? Makan, tidur, ngobrol sesama pasien, kayaknya Cuma itu-itu aja yang mereka kerjain. Mana bisa mereka baca buku, emangnya ada buku di bangsal? Mana bisa mereka main gitar di bangsal? Paling-paling mereka Cuma bisa nonton TV, yang acaranya gitu-gitu doang. Dan berbeda dengan orang dengan kelainan fisik, orang kelainan jiwa ini biasanya menjalani rawat inap selama berminggu-minggu, bisa berbulan-bulan bahkan.. (gue kurang tau kalo ada yang setahun lebih). Kasian kan?
Makanya, mereka butuh support keluarga, lingkungan, dan juga tenaga kesehatan. Keluarga ga malu, ga menyembunyikan mereka, dan malah mendorong pasien buat membaur dengan lingkungan. Keluarga perlu memotivasi pasien biar rajin minum obat, biar gejala-gejalanya cepet ilang, atau minimal. Lingkungan bisa berperan dalam menerima pasien untuk berbaur dengan masyarakat, tanpa harus melekatkan stigma yang buruk buat pasien skizofren, dan membantu pasien untuk bisa kembali hidup dalam realita yang sebenarnya. Tenaga kesehatan, dapat mengoptimalkan penatalaksanaan dan rehabilitasi pasien skizofren dan menyiapkan pasien untuk kembali hidup di masyarakat.
Hahaha. Sok teoritis ya gue? Gue Cuma menyampaikan apa yang gue liat, gue denger, gue rasa, dan gue pikir. Intinya sih, dukung, dan jangan kucilkan mereka.. J

Wednesday, February 20, 2013

Medical Series: New Heart

Yak, setelah 23 episode melelahkan medical drama Korea “New Heart”, akhirnya saya bisa membuat resensinya. walaupun drama ini aslinya ditayangkan tahun 2007 di Korea, tapi gak ada salahnya meresensi drama ini buat penggemar medical series kayak saya, :D.


Drama ini bercerita tentang perjalanan 2 dokter baru (entah lulus Koas apa lulus internship, menurut saya di film ini, koas=internship deh), Lee Eun Sung dan Nam Hye Suk, yang apply PPDS Thoracic Surgery (a.k.a Bedah Thorax dan Kardiovaskular—BTKV) di RS Pendidikan KwangHee.
Bagian BTKV di RS ini ceritanya bukan program studi yang keren. BTKV cuma menghabiskan biaya operasional rumah sakit, menghabiskan waktu residen dan konsulennya, dan para Sp.BTKV disana ceritanya gak banyak menghasilkan uang. Beda kayak bedah plastik, dan kulit, misalnya, yang disana ceritanya merupakan prodi yang keren dan menjanjikan. (FYI, orang Korea hobi operasi plastik demi penampilan sempurna). Aneh juga ya. Padahal disini menurut saya, sejauh ini, BTKV adalah sub bagian bedah yang paling keren. :S. Makanya kenapa ada PPDS mayor dan minor. Mayor terdiri dari 4 besar (interna, anak, obgyn, bedah), sementara minor adalah sisanya. Beda sistem pendidikan juga kali ya.
Meet Lee Eun Sung. Dokter lulusan universitas yang tidak dikenal di Korea, sekolah SMP-SMAnya dulu gak jelas banget. Sekolahnya SMK, dropout, dan lulusnya dengan ujian kesetaraan (mungkin kayak paket C kali ya). Tapi ajaibnya dia bisa keterima di Third Class-Medschool (maksudnya: FK yang di perifer, gak terkenal dan gak meyakinkan). Orang yang agak lebay (menurut saya sih) dalam menghadapi segala sesuatunya yang terkait dengan pasien. Empatinya dapet, kebangetan malahan. Haha. Polos juga sih sebenernya.

Satu residen baru lagi, namanya Nam Hye Suk. Lulusan terbaik dari KwangHee, yang cerdas dan populer karena kepandaiannya. Seorang anak (yang dirahasiakan) dari Direktur RS Pendidikan KwangHee, dan ibunya adalah desainer Hanbok (baju tradisional Korea). Nam Hye Suk ikut nama keluarga ibunya, Nam. Nam Hye Suk ini orangnya cool banget lho, orangnya ga rempong, ga ribet, dan simpel. Keren ya, residen BTKV perempuan satu-satunya. Bahkan ceritanya di RS ini gak ada konsulen BTKV perempuan lho.

Ada juga Choi Gang Kook, kepala bagian Thoracic Surgery di RS itu. Skillfull, keren banget pas operasi (as well as comic). Agak jahat, kejam juga kalo ngatain orang, tapi sebenernya baik hati.

Well, menurut saya, inilah sisi positif drama ini:
-          Banyak selipan melo-drama nya. Buat yang suka nonton film drama, drama ini sesuaidengan genre melo-drama.
-          Agak sedikit diberi selipan komedi, at least bisa sedikit-sedikit ketawa lah.

Selain sisi positif, tentu ada juga negatifnya, yaitu:
-          Cuma dikit doang sisi ‘medis’nya. Secara medis ga terlalu dijelaskan, kenapa begini dan kenapa begitu.
-          Terlalu mellow. Dikit-dikit nangis. -___-“
-          Seperti medical series asia lainnya, drama ini bertujuan untuk menguras emosi penonton. Hehe.

Entah kenapa, saya paling suka hal-hal yang berkaitan dengan diagnostik. Saya suka ngeliat, cuma nggak begitu suka melakukan tindakan-tindakan soalnya.

Kesimpulan: Jadi kalo dari skala 1-10, house nilainya 9, saya kasih nilai drama ini 7 lah (saya tetap paling suka House—yang membahas diagnostik, hehe :D).      
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                               

Saturday, December 1, 2012

Ampicillin Injeksi Yang Sederhana


Suatu sore di IGD minor.
Setting :IGD bedah minor cukup lenggang, ada 3 pasien disitu (kapasitas IGD bedah minor sekitar 6 pasien).
Koas sudah melakukan pengenceran antibiotik, berupa ampicillin 1 vial, yang berisi 1 gram ampicillin. Koas mengencerkan ampiciliin dengan legeartis, yaitu dengan aquabidest 10 cc. (FYI: biasanya waktu saya stase obgyn, agar lebih mudah kami mengencerkan ampicillin maupun ceftriaxone dengan aquabidest 5 cc).
Residen yang saya sebutkan in i adalah residen yang bukan junior sekali, mungkin kalau di stase anak, bisa disebut residen madya. *eh tapi ini bukan residen anak lho*.
                Residen ini sudah punya residen yang lebih junior *yang berarti sudah bisa nyuruh-nyuruh eh minta tolong*. Yang berarti, harusnya residen ini... *diisi sendiri deh sesuai harapan masing-masing*

Residen                  : eh dek,, kamu itu lagi ngencerin ampicillin?
Koas                      :iya dok,
Residen                  : itu bener ampicillin cara ngencerinnya gitu?
Koas                      : iya, bener kok dok. 10 cc.
Residen                  : itu berapa gram ampicillinnya? 1 gram?
Koas                  : iya bener kok dok, 1000 mg kan sama dengan 1 gram *nglirik label di vialnya sambil      sebel*
                                Ini ada petunjuknya di brosurnya *sambil nyodorin brosur obat*
Residen                  : *tanpa menghiraukan brosur tersebut* 
     eh, kamu itu  jangan bertindak sendiri, tanya dulu sama perawatnya. *sambilmenggumam:        Ini perawatnya mana ya?*

~~(mikir dalam hati: masa Residen madya gak ngerti ampicillin berapa gram? Masa gak ngerti cara ngencerinnnya gimana??? HAAAH? Yang bener aja bro!!)~~
Dan beberapa menit kemudian perawat IGD minor lewat..

Residen               : pak, ini bener ya ngencerin ampicillin gini?
Perawat               : lha emangnya gimana dok?
Residen               : ini lho koasnya.. *nunjuk koas*
Perawat               : lha gimana mbak? Semuanya kan 1 vial diencerkan? *nengok ke koas*
Koas                   : iya pak, semuanya kok, pake 10 cc, sama kayak petunjuk di brosur pak.
Perawat               : ooh,yaudah gapapa dok.. *ngomong sama residen*
Residen               : oiya pak *manggut-manggut*
                                *gak bilang apa2 sama koas*
Koas                   : *sebel banget*
*berdoa: Ya Allah mudah-mudahan saya besok waktu PPDS gak malu-maluin diri sendiri didepan koas dan perawat seperti itu.. amiin.*

Thursday, November 1, 2012

Medical Series: dr. Koto's Clinic


Well,gue kalap nonton banyak film, dan gue merasa perlu mereview satu medical drama ini, dr. Koto's Clinic. Kalo TMD kadar dramanya hampir seimbang dengan actionnya (action: 60%, drama: 40%), di film ini menurut gue, dramanya jauh lebih besar daripada actionnya (kurang lebih 70% drama, 30% action).
ini yang namanya dr. Goto Kensuke

Drama ini bercerita tentang dr. Goto (tapi masyarakat sekitarnya salah panggil, mereka manggil dokter ini jadi “dr. Koto”) seorang dokter bedah yang melakukan suatu kesalahan (baca: luput) telah telat menangani satu pasien yang datang dengan acute abdomen (lupa ceritanya gimana), dan memilih untuk OP pasien yang satunya lagi (lupa pasien apa, kayaknya pasien jantung). Pasien dengan acute abdomen ini akhirnya meninggal, dan ternyata kakak pasien itu adalah seorang wartawan (wah.. kacau, tamat riwayat dokter di tangan wartawan yang lebay). Dokter tersebut tersudut oleh publikasi wartawan tersebut, dan terpaksa ‘membuang’ diri ke pulau terpencil, namanya Shikina, yang puskesmasnya jelek, dan cuma ada satu perawat dan satu petugas administrasi yang biasanya merangkap jadi asisten II pas OP.

dr. Koto dan puskesmasnya


FYI: ini anestesiologist yang ada di TMD 2 lho, hehehe. Di film ini ceritanya dia jadi penduduk setempat.
  
Perawatnya ini, mbak-mbaknya yang main di drama action science-fisika gitu, dulu pernah nonton, judulnya "Galileo", hehe. bagus juga tu dramanya. :D

                Intinya, seperti layaknya medical drama Jepang, banyak hal yang ga mungkin, dan agak mustahil dilakukan. Contohnya, di puskesmas itu ga ada ruang foto buat radiologi, tapi kok tau-tau bisa ada foto thorax, foto cruris AP lateral. Hahaha. Trus, sterilisasinya gimana ya, rada bingung juga dimana mau sterilisasi alat-alat. Trus, operasi mayor yang gede-gede dan melibatkan vaskuler (masuknya ke BTKV)bisa dilakukan di Puskemas sekecil itu. Waaw. Hebat sekali.
                Episode pertama emang sih Cuma appendectomy, trus berikutnya, berikutnya, ada colonectomy (apa sigmoidectomy ya, lupa), ada juga craniotomy, trus Opnya BTKV (lupa operasi apa). Agak mirip-mirip Team Medical Dragon juga, tapi di film ini, tindakan bedahnya ga terlalu diekspos. Yang lebih diekspos adalah dramanya. Hahaha. Salah gue nonton beginian. Harusnya yang nonton ginian mbak-mbak penggemar sinetronnya RC*I atau SC*V. Pasti mereka suka juga deh nonton ginian.
                Poin positifnya dari film ini, membangun semangat buat mereka yang mau PTT ke pelosok Indonesia, semoga punya semangat pengabdian yang sama kayak dr. Koto. Udah sih gitu aja kayaknya. :D

Friday, September 14, 2012

Stase #6: Anestesi


Oke. Stase ini cukup berkesan sepertinya. *secara dulu sempat pernah kepengen PPDS bagian ini*
Dulu namanya anestesiologi dan reanimasi. Tapi karena konon katanya definisi harafiahnya reanimasi itu “menghidupkan lagi”, maka, namanya diganti jadi Anestesiologi dan Terapi Intensif. Begitu ceritanya. *lho, segitu doang? Haha*
Stase ini keren, dengan residen yang keren. Residennya mandiri sekali lho.. jarang sekali meminta tolong (baca: nyuruh) koas ini itu. Paling-paling hanya antar-jemput resep dan obat ke apotek dan OK (baca: operatie kamer – kamar operasi), kemudian memeriksa pasien konsulan yang nantinya juga dilihat ulang oleh residen. Hmm, itu juga termasuk nyuruh sih, tapi gak separah residen-residen bagian besar yang heboh (contoh: obg*n dan b*d*h – terparah se-rumah sakit nih) hehe.
Selain itu, residen anestesi juga punya sifat dan pembawaan yang tenang, peka terhadap suara-suara baik di monitor vital sign di ruang resusitasi (RR) maupun di dalam OK. Karena saat saturasi turun, maka nada yang didengar jadi turun juga. Kasarannya, tanpa melihat pun, residen sudah tahu dari bunyinya, haha. Dan gue pun sekarang juga jadi agak peka mendengar suara-suara seperti itu.
Pembawaan tenang itu sepertinya sifat mutlak residen anestesi. Kalau ada pasien datang di RR, yang biasanya kondisinya tidak mungkin dalam keadaan umum yang baik, maka residen yang jaga harus segera bertindak cepat. Pasang ET kek, pasang sungkup dan mulai bagging kek, RJPO kek, epinefrin kek, kasih sulfas atropin kek, ngapain kek, asal jangan malah terpesona aja. Bayangkan, kalau ada pasien apneu atau dispneu, kalo residennya ikut panik bagaimana coba? Haha.
Nah, (ini part terpenting dalam tulisan gue, haha) gue belum punya sifat tenang kayak gitu, yang diperlukan oleh residen anestesi. Dan gue ga punya tangan besar (penting nih) buat nyungkup (baca: bagging) pasien yang lagi dilaksanakan general anestesi (GA) (FYI: pasien GA itu pernapasannya lumpuh, jadi anestesiologis harus membackup napas pasien sampai pasien bisa napas spontan lagi, which is mendekati operasi selesai, hehe).
Gue jadi inget anestesiologisnya Team Medical Dragon, Arase Monji, yang ahli nujum berat badan. Tanpa ngukur dan nanya dulu, Arase bisa memperkirakan berat badan orang dengan sangat tepat. Gilee, keren banget ya.. apalagi masalah itung-itungan, keren banget, dosisnya ga pake diitung pake kalkulator dulu, hehe. Dulu pas nonton TMD 1-3, sempet kepikiran juga, gimana ya kalo nanti gue nyoba daftar PPDS anestesi aja. Tapi, setelah terjun langsung ke dunia anestesiologi, kayaknya gue ga bisa deh jadi spesialis anestesi. Hehe.


Wednesday, June 6, 2012

Profesionalisme Koas


                Tadi saya membaca artikel tentang dokter muda, dimana sebuah harian menyorot soal sandal jepit yang digunakan saat jaga, dan konsekuensinya terhadap profesionalisme tenaga kesehatan *agak gak nyambung, yah namanya juga mencari sensasi, hehe*. Silahkan baca beritanya. Ini merupakan peristiwa nyata di Rumah Sakit Sanglah, Denpasar—tempat kegiatan para dokter muda Universitas Udayana. Tulisan berikut di blog ini  (recommended untuk dibaca) merupakan kutipan berita beserta tanggapan dari seorang dokter muda (sekarang sudah menjadi residen) terhadap berita tersebut.

                Masih bertema sama, profesionalisme. Teman saya yang juga koas (=dokter muda) di stase yang berbeda, curhat tentang teman satu stasenya. Bahwa, dia sudah berusaha membangun image se-profesional, se-meyakinkan, se-formal, dan se-dewasa mungkin di depan pasien, tetapi image tersebut dihancurkan oleh teman satu stasenya itu dengan attitudenya yang masih ‘mahasiswa banget’, hehe. Kasihan sekali L.
                Oiya, sedikit curhat, saat saya sedang jaga malam, terkadang saya dipanggil “SUS”. Haha. Rasanya agak sebel deh kalau dipanggil-panggil seperti itu. Padahal, baju jaga kami sebagai dokter muda diberi tulisan border dengan huruf besar-besar – nama dan dibawahnya tertulis: “DOKTER MUDA“. Yah, saya agak maklum. Mungkin pasien tersebut mengalami myopia berat atau sedang tidak dalam kesadaran penuh. Hehe. Mungkin juga karena baju kami terlihat seperti satu setel piyama berwarna abu-abu yang agak mirip-mirip dengan seragam petugas kebersihan. #nooffense. Kemungkinan terbesar, belum muncul ‘aura’ dokter dari dalam diri para koas baru. Hahaha. *ngelantur*
Yah, jujur saya merasa tertohok. Jaga dengan sandal jepit? Iya. Membangun image professional? Belum.
                Poin pertama, saya tidak setuju kalau penggunaan sandal jepit saat jaga menurunkan nilai profesionalitas para tenaga kesehatan. Penggunaan sepatu tertutup lebih dari 24 jam jelas membuat kaki tidak sehat. Lagipula, sandal lebih mudah dicopot ketika masuk ICU, sandal lebih mudah dicuci ketika kotor terkena sesuatu, dan lain sebagainya. Yang penting, dokter bisa menangani pasien sesuai standar operasional prosedur yang berlaku dan sesuai dengan kompetensinya. Pasien tidak akan protes kok, dilayani oleh dokter dan koas yang menggunakan sandal jepit. Saya dukung dokter muda menggunakan sandal jepit!! Hehe
                Poin kedua. Gaya bicara, tutur kata, pembawaan, attitude, dan gerak tubuh harus menyesuaikan dan menyerupai dokter ‘betulan’ semirip mungkin. Kenapa? Agar pasien percaya bahwa dokter muda ini juga professional, dan mempunyai kemampuan yang cukup untuk menangani pasien. Minimal, anamnesis dan pemeriksaan fisik yang dilakukan seoptimal mungkin. Benar yang ibu saya bilang dari dulu, jauh sebelum masuk koas – pada waktu saya masih menikmati indahnya masa preklinik. Hehe. Membangun image professional itu penting lho!
                Baiklah, kesimpulannya, semakin lama menjadi koas harus lebih belajar bagaimana cara menempatkan diri diantara struktur rumah sakit yang ada: residen, staf, dan juga pasien tentunya. Bagaimana bicara yang baik agar dipercaya sebagai dokter muda yang baik, dan bagaimana caranya memberikan pelayanan yang terbaik. Semoga kedepannya, para koas jaga tidak ada lagi yang dipanggil ‘SUS’! Hahaha :D